Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Menikah Adalah Keajaiban
Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Allah SWT di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenis ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana firman Allah SWT, yang artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” ( QS. Ar Rum : 21)
Cinta pada dasarnya bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Islam adalah agama fitrah, karena itu Islam tidaklah membelenggu perasaan manusia. Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia. Akan tetapi Islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta, merawat dan melindungi dalam bingkai pernikahan.
Rasulullah SAW bersabda;”Wahai para pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena puasa itu dapat membentengi dirinya. (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim, Tirmidzi, nasaiy, Darimi, Ibnu Jarad dan Baihaqi)
Secara hakiki pernikahan memiliki tujuan untuk melestarikan keturunan, mempertahanklan spesies manusia. Meski demikian, seorang muslim yang cinta pada Allah dan Rasul-Nya tentu tidak akan memandang pernikahan hanya sebagai ”pabrik anak” saja, tapi pernikahan adalah salah satu sarana ibadah, memperkuat kekuatan iman, sehingga saat memilih pasangan hidup, pilihan hati pun akan jatuh pada insan yang memiliki bekal keimanan yang kuat. Rasulullah SAW bersabda: ”Barang siapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaqnya, maka tidak akan pernah pernikahan itu diberkahi-Nya. Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaannya, Allah hanya akan memberikan kemiskinan , Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikahi hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.” (HR. Thabarani)
Ketika seorang muslim baik pria atau wanita belum atau akan menikah , biasanya akan timbul perasaan yang bermacam-macam. Ada rasa gundah, resah, bimbang ragu-ragu, termasuk juga tidak sabar menunggu datangnya sang pendamping, dan lain-lain.
Untuk mengobati kegalauan, menghilangkan keraguan, serta mempersiapkan diri memasuki gerbang pernikahan, patutlah kita renungkan dan cermati firman Allah dan hadits-hadits Rasulullah SAW berikut :
Ø Menggenapkan separuh agama.
”Barang siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara separuhnya lagi.” (HR. Thabarani dan Hakim)
Ø Pasangan kita adalah cermin dari diri kita.
”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wnita yang baik (pula).” (QS. An Nuur : 26)
Bila ingin mendapatkan jodoh yang baik, maka perbaikilah diri. Hiduplah sesuai ajaran Islam dan Sunnah Rasul-Nya. Jadilah laki-laki yang sholeh, jadilah wanita-wanita yang sholihah. Semoga Allah memberikan hanya yang terbaik buat kita.
Ø Menikahlah, maka engakau menjadi kaya.
”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. An Nuur : 32)
Sebagian pemuda ada yang merasa bingung dan bimbang ketika akan menikah. Salah satu sebabnya adalah karena belum punya pekerjaan. Dan anehnya ketika para pemuda telah mempunyai pekerjaan pun tetap ada perasaan bimbang juga. Sebagian mereka tetap ragu dengan besaran rupiah yang mereka dapatkan dari gajinya. Dalam pikiran mereka terbersit,”Apa cukup untuk berkeluarga dengan gaji sekian?”.
Ayat diatas merupakan jawaban buat mereka yang ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan karena alasan ekonomi. Yang perlu ditekankan kepada para pemuda dalam masalah ini adalah kesanggupan untuk memberi nafkah, dan terus bekerja mencari nafkah memenuhi kebutuhn keluarga. Bukan besaran rupiah yang sekarang mereka dapatkan. Nantinya Allah akan menolong mereka yang menikah. Allah Maha Adil, bila tanggung jawab para pemuda bertambah dengan kewajiban menafkahi istri-istri dan anak-anaknya , maka Allah akan memberikan rejeki yang lebih. Tidakkah kita lihat kenyataan di masyarakat, banyak mereka yang semula miskin tidak punya apa-apa ketika menikah, kemudian Allah memberinya rejeki yang melimpah dan mencukupkan kebutuhannya?
Ø Allah sebagai penolong.
”Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong, mereka yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)
Bagi siapa saja yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka berhak mendapatkan pertolongan dari Allah berdasarkan penegasan Rasulullah SAW dalam hadits ini. Dan pertolongan Allah itu pasti datang.
Ø Senda guraunya suami istri bukanlah perbuatan sia-sia.
”Segala sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan sia-sia, sendau gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan mengajarkan renang.”(Hadits Shahih)
Ø Berjima’ dengan istri termasuk sedekah.
Pernah ada sahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, ;”Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami shalat, mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa, bahkan mereka bisa bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, ”Bukankah Allah telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada tiap-tiap ucapan terdapat sedekah; (tasbih, takbir, tahlil, tahmid), memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah, mencegah perbuatan munkar adalah sedekah, dan kalian berjima’ dengan istri pun sedekah.” Mereka bertanya, ”Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapat pahala?” Beliau menjawab,”Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?” Mereka menjawab,”Ya, tentu.” Beliau bersabda,”Demikian pula bila dia salurkan syahwatnya pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan pahala.”
Ø Suami memberi nafkah adalah sedekah.
Seorang suami memberikan nafkah, makan minum, dan pakaian kepada istrinya dan keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh Allah. Dari Abu Hurairah r.a. , ia berkata; Rasulullah SAW, bersabda: ”Satu dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu yang satu dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim).
Rangkaian kemuliaan dan ladang pahala di atas, hanyalah sebagian dari kenikmatan yang akan Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang meniti jalan pernikahan di jalan yang telah Allah gariskan. Pernikahan bukanlah ikatan tanpa arti, tapi suatu jalinan suci yang di dalamnya terdapat hak dan kewajiban suami istri yang harus dipenuhi, sehingga , seyogyanyalah gerbang pernikahan pun dilewati dengan hati-hati agar ridha Allah senantiasa memayungi. Dari mulai mencari pasangan hidup yang Allah takdirkan untuk kita, menjalani masa-masa ta’aruf (perkenalan) dengan tidak mengumbar syahwat, menyelenggarakan akad nikah dan walimah yang tidak mendatangkan peluang yang menghantarkan pada bermaksiat kepada Allah, menjalani kehidupan suami istri yang sakinah mawaddah wa rahmah, sampai mendidik anak-anak yang lahir dari jalinan kasih suami istri menjadi qurrata a’yun, dengan kesadaran penuh bahwa mereka adalah amanah Allah. Yang semuanya itu Insya Allah akan menjadi penghantar kelanggengan kehidupan rumah tangga dunia dan akhirat. Amin.
SUBHANALLAH
Menikah Adalah Keajaiban
No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>